MEMBENTUK INTERPRESTASI REALITAS
NILAI BUDAYA
Nilai budaya Persepsi Resepsi merupakan suatu cara untuk
membuat dunia fisik dan sosial kita menjadi masuk akal. Seperti yang pernah
dituliskan oleh penulis Jerman Hermann hesse "tidak ada kenyataan selain
yang ada dalam kita" dan kami tambahkan bahwa kenyataan itu ada pada kita,
sebagian oleh budaya kita. Persepsi dan
budaya Seperti yang kita nyatakan di bab 1 dengan menyingkapkan pengalaman yang
sama terhadap sekelompok orang, budaya menghasilkan arti dan perilaku yang
sama. hal ini tentu saja, tidak berarti bahwa setiap orang dalam budaya
tertentu akan melihat sesuatu dengan cara yang sama. bahwa budaya mempengaruhi
realitas seseorang dan ada hubungan langsung antara budaya, persepsi dan
perilaku.
Seperti
yang dinyatakan oleh Gamble dan gamble, “persepsi merupakan proses seleksi,
pengaturan, dan penginterpretasian data sensor dengan cara yang memungkinkan
kita mengerti dunia kita. Dengan kata lain, persepsi merupakan proses dimana
orang orang mengubah kejadian dan pengalaman ekternal menjadi pemahaman
internal yang berarti.
Kepercayaan
bekerja sebagai sistem penyimpanan bagi pengalaman masa lalu, termasuk
pemikiran, ingatan, dan interpretasi terhadap suatu peristiwa. Kepercayaan
dibentuk oleh budaya seseorang.” Kepercayaan penting, karena “diterima sebagai
suatu kebenaran.” Kepercayaan mencerminkan tindakan dan perilaku.
Dalam tradisi Islam, percaya bahwa Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan
terpercaya, sehingga menerima segala mukjizat dan janji-janji yang ada di
jalannya. Anda harus mampu mengenali bahwa budaya memiliki sistem realitas dan
kepercayaan yang berbeda.
Pola budaya merupakan
suatu sistem kepercayaan dan nilai yang terintegrasi yang bekerja sama untuk
menyediakan suatu model yang terpadu.
Beberapa hal yang
memungkinkan kita menggunakan pola budaya yaitu:
1.Kita
lebih dari budaya kita
2.Pola
budaya merupakan hal yang terintegrasi
3.Pola
budaya merupakan hal yanng dinamis
4.Pola
budaya dapat bertentangan
Pola Budaya Dominan
Amerika Serikat :
1.Individualisme
2.Kesamaan
kesempatan
3.Pemerolehan
materi
4.Ilmu
pengetahuan dan teknologi
MEMBEDAKAN
POLA BUDAYA
Ada empat hal yang menjadi inti dari pembelajaran komunikasi
antarbudaya. Klasifikasi yang pertama, dikembangkan oleh Hofstede,
mengidentifikasi lima nilai dimensi (individualisme/kolektivisme, menghindari
ketidakpastian, kekuasaan maskulin/feminim, dan orientasi jangka pendek/jangka
panjang) yang dipengaruhi dan dimodifikasi oleh budaya. Orientasi kelompok
kedua (sifat manusia, orientasi manusia/alam, waktu, aktifitas, dan orientasi
relasional) datang dari karya antropolog Klockhohn dan Strodtbeck. Taksonomi
ketiga yang dikembangkan oleh E.T. Hall, melihat bagaimana budaya
konteks-tinggi dan konteks-rendah merespons berbagai sistem pesan. Pola budaya
terakhir dikembangkan oleh penelitian yang dilakukan oleh ahli komunikasi antar
budaya Ting-Toomey yang penelitian nya di garisbawahi oleh peranan “wajah” dan
“identitas” dalam komunikasi antarbudaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar